Jumat, 02 Maret 2012

Uji emisi mobil Esemka tidak ada kendala


Uji emisi mobil Esemka di Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi Serpong, Tangerang Selatan, Banten, tidak mengalami kendala.
“Selama pengamatan saya, uji emisi mobil Esemka di BTMP tidak ada masalah dan kendala apa pun,” kata Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa Erzi Agson Gani ditemui di BTMP Serpong, Senin.
Uji emisi mobil karya siswa SMK itu berlangsung selama 19 menit 45 detik. Uji emisi melibatkan satu tim yang berpengalaman terdiri dari supir, pencatat data hingga setter up.
Meski demikian, pihaknya tidak bisa mengumumkan hasil uji emisi. Sebab, pihaknya tidak memiliki kewenangan. ”BPPT hanya ditunjuk untuk melakukan pengujian. Sedangkan pengumuman, diserahkan kepada yang memberi perintah yakni Dirjen Perhubungan Darat,” katanya.
Namun, dirinya memastikan bahwa uji emisi sudah sesuai syarat dan dilakukan dengan seksama. Apalagi BPPT merupakan lembaga yang memiliki sertifikat internasional dan resmi.
Artinya, hasil yang dilaporkan kepada Dirjen Perhubungan Darat merupakan hasil uji yang valid. “Pengujian yang dilakukan BPPT adalah secara resmi karena kendaraan ini digunakan bukan untuk setahun melainkan seterusnya. Jadi, harus aman bagi masyarakat.”
Anggota Komisi I DPR RI, Roy Suryo mengungkapkan, bila pihaknya bersyukur bila selama uji emisi tidak adanya kendala yang dialami mobil Esemka. ”Selama pengamatan saya, pengujian berlangsung baik dan tidak ada kendala. Artinya, peluang lulus uji sangat besar,” katanya.
Walaupun demikian, dirinya masih akan tetap menunggu pengumuman secara resmi karena ada 11 tahapan dalam pengujian. ”Uji emisi ini adalah rangkaian ujian terakhir. Tetapi, bila melihat runutan perjalanannya, semuanya berjalan lancar,” katanya.
Bahkan, Anggota Komisi VII DPR Muhammad Syafrudin mengaku bila dirinya sudah tidak sabar untuk mengendarai mobil Esemka sebagai fasilitas bekerja. ”Secepatnya mobil ini bisa di pasarkan karena produk dalam negeri yang banyak di tungu kehadirannya oleh masyarakat,” katanya.
Pasca dilakukan uji emisi, mobil Esemka kemudian dikendarai kembali oleh Wakil Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo menuju ke Solo. Mobil Esemka melewati proses pendinginan selama enam jam sebelum uji emisi Euro 2 di BTMP Serpong, setelah pukul 7 pagi.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi pada Pusat Teknologi Industri dan Sistem Transportasi Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP) Serpong, Prawoto, menuturkan bila pihaknya telah menyiapkan tiga penguji dan tiga pengawas dalam proses uji emisi tersebut.
Uji emisi merupakan bagian dari salah satu syarat bagi kendaraan baru yang nantinya akan di produksi secara massal dan dinyatakan layak jalan. Uji emisi pun bertujuan untuk memastikan bila kandungan yang dihasilkan dari kendaraan tersebut aman dan ramah lingkungan.
“Maka, nantinya akan diambil kandungan emisinya yang dihasilkan setelah melakukan perjalanan. Bila memenuhi syarat, maka dinyatakan lolos uji emisi,” katanya.
(ANTARA)
Editor: Suryanto

Kamis, 01 Maret 2012

FIFA Investigasi Laga Bahrain-Indonesia


Swiss - Laga antara Bahrain melawan Indonesia yang berkesudahan 10-0 untuk kemenangan Bahrain berbuntut panjang. FIFA berencana menggelar investigasi.
Laga tersebut merupakan laga krusial, karena Bahrain sedang bersaing dengan Qatar, yang pada saat bersamaan bertanding melawan Iran. Jika Qatar kalah dan Bahrain menang dengan total selisih gol di kedua pertandingan mencapai 10, Bahrain akan melenggang ke putaran keempat kualifikasi Piala Dunia zona Asia.
Melihat hasil yang dicapai, tak heran jika kemudian muncul kecurigaan adanya ‘main mata’ antara kedua tim. Suara paling vokal sudah jelas datang dari Qatar.
Karena itu, seperti dilansir Daily Mail, FIFA lewat pernyataan resminya berencana menggelar investigasi terhadap laga Bahrain.
Departemen keamanan FIFA merilis pernyataan bahwa organisasi sepak bola dunia tersebut “akan mengadakan pemeriksaan rutin mengenai pertandingan ini dan hasilnya.”
Menurut FIFA, penyelidikan ini didasari oleh “hasil yang tidak biasa jika dibandingkan dengan perkiraan hasil dan sejarah pertemuan kedua klub, dan demi menjaga kebersihan dalam pertandingan kami.”
Wasit diperkirakan akan diperiksa juga terkait hal ini. Andre El-Haddad memberikan kartu merah kepada kiper Indonesia, Syamsidar, pada menit ketiga. Wasit juga memberikan empat penalti, dua diantaranya mampu ditepis kiper pengganti.
Meski mampu memenuhi selisih gol yang dibutuhkan, Bahrain tetap gagal lolos karena laga Qatar berakhir imbang 2-2 melawan Iran. Dengan demikian, Iran dan Qatar menjadi wakil Grup E zona Asia di kualifikasi Piala Dunia 2014 putaran keempat.
Sepanjang sejarah pertemuan antara Indonesia melawan Bahrain, selisih gol yang tercipta tidak pernah lebih dari dua.
Indonesia 3-2 Bahrain (Piala Presiden Korea Selatan, Agustus 1980)
Indonesia 1-1 Bahrain (Piala Presiden Korea Selatan, Agustus 1982)
Indonesia 0-0 Bahrain (Kualifikasi Piala Asia 1988 Jakarta, 1987)
Indonesia 1-3 Bahrain (Piala Asia 2004 Grup A, 25 Juli 2004)
Indonesia 2-1 Bahrain (Piala Asia 2007, 10 Juli 2007 Jakarta)
Indonesia 0-2 Bahrain (prakualifikasi I piala dunia 2014 zona Asia, 2011)
Indonesia 0-10 Bahrain (prakualifikasi II piala dunia 2014 zona Asia, 2012)

kekalahan timnas terburuk, siapa salah?


Tim Nasional Indonesia menelan kekalahan terburuk sepanjang sejarah setelah dilumat Bahrain 0-10 di Pra Piala Dunia 2014, Rabu 29 Februari 2012. Siapakah yang harus bertanggung jawab?

Tanda-tanda kekalahan Indonesia dari Bahrain sudah tampak sejak awal pertandingan. Tampil dengan mayoritas pemain-pemain muda yang minim pengalaman internasional, Indonesia sudah harus bermain dengan sepuluh pemain sejak menit keempat setelah kiper Samsidar dikartu merah.

Alhasil kiper pengganti, Andi Muhamad Guntur, harus menjadi bulan-bulanan pemain Bahrain dan kebobolan sepuluh kali. Kondisi itu semakin diperburuk dengan diusirnya pelatih Aji Santoso di babak kedua karena memprotes wasit.

Ini adalah kekalahan terburuk sepanjang sejarah sepakbola Indonesia. Sebelumnya kekalahan terburuk tim Merah Putih terjadi saat dilumat Denmark 0-9 pada laga persahabatan di Copenhagen, 3 September 1974.

Kekalahan Menyedihkan

Kekalahan telak Indonesia dari Bahrain langsung mendapat respon dari sejumlah pelaku sepakbola nasional. Mantan bomber Indonesia, Kurniawan Dwi Julianto, menegaskan dirinya sedih dengan kekalahan yang diterima Ferdinand Sinaga dan kawan-kawan.

"Jujur, saya kecewa dengan melihat hasil ini. Sebagai mantan pemain timnas, tentu saya sedih. Namun sebagai pecinta timnas, saya harus tetap mendukung para pemain," ujar Kurniawan kepada VIVAbola.

Hal senada juga diungkapkan mantan gelandang Indonesia, Fachry Husaini. Meski sedih, Fachry meminta masyarakat Indonesia untuk tidak melimpahkan kesalahan pada pemain dan pelatih Aji Santoso.

"Saya sedih padahal timnas sempat memiliki tren yang bagus. Tapi, coach Aji jangan dijadikan sasaran tembak. Dia telah melakukan yang terbaik. Namun, dia memang terlalu berani menurunkan pemain dalam pertandingan ini," kata Fachry.

Dualisme Kompetisi

Pelatih Aji Santoso memang terpaksa menurunkan pemain yang minim pengalaman. Hal itu menyusul keputusan PSSI yang melarang pemain dari Indonesia Super League (ISL) memperkuat Timnas Indonesia. Praktis Aji hanya bisa mengandalkan pemain-pemain terbaik dari Indonesia Premier League (IPL).

Kondisi tersebut sangat merugikan Indonesia. PSSI bisa saja berdalih mereka hanya menjalankan Statuta yang melarang pemain dari kompetisi luar membela Timnas. Namun, hal tersebut tidak berlaku buat Federasi Sepakbola Malaysia (FAM) yang tetap memainkan Mohd Safee Sali meski sang striker saat ini memperkuat Pelita Jaya FC di kompetisi ISL.

Safee tetap bisa memperkuat Malaysia saat bermain imbang 1-1 melawan Filipina, Rabu 29 Februari 2012. Bahkan Safee menjadi kreator gol penyeimbang tim Harimau Malaya yang dicetak oleh Shakir Ali di pengujung pertandingan.

Keputusan FAM untuk tetap memainkan Safee didasari pernyataan Sekjen AFC, Alex Soosay, yang mengatakan bahwa Safee masih bisa memperkuat timnas Malaysia hingga PSSI memecahkan persoalan ISL hingga 22 Maret 2012.

Situasi tersebut yang tidak dilakukan PSSI di bawah kepemimpinan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin. PSSI tetap berpegang bahwa menggunakan pemain dari ISL melanggar Statuta. Terlebih hingga kini PSSI tidak mengeluarkan klub-klub ISL dari keanggotaan mereka.

Nama-nama pemain gaek seperti Firman Utina, Bambang Pamungkas ataupun Cristian Gonzales memang sudah saatnya diganti. Namun, kita tidak bisa menutup mata kalau talenta muda terbaik Indonesia sebagian besar berada di ISL.

Pemain muda seperti Titus Bonai, Patrich Wanggai, Ramdani Lestaluhu, Oktovianus Maniani dan kiper Kurnia Meiga pantas mengenakan seragam Merah Putih.

Tanggung Jawab

Banyak pihak menyayangkan sikap PSSI yang melarang pemain-pemain ISL membela Timnas hingga akhirnya dilumat Bahrain 0-10. Salah satu pernyataan keras datang dari mantan pelatih Timnas Indonesia, Benny Dolo.

Pelatih yang akrab disapa Bendol tersebut menyesalkan sikap PSSI yang tidak memperjuangkan pemain-pemain ISL membela Timnas, layaknya yang dilakukan FAM terhadap Safee. Bendol juga menilai PSSI harus bertanggung jawab atas kekalahan memalukan dari Bahrain.

"Para pengurus harus bertanggung jawab, karena mereka mengemban amanat bangsa Indonesia. Kekalahan melawan Bahrain ini mencoreng nama kita di pentas sepakbola Internasional. Kita seperti bunuh diri," tegas Bendol.

Fachry Husaini juga meminta PSSI untuk bertanggung jawab atas kekalahan dari Bahrain. Mantan pelatih Bontang FC itu juga meminta PSSI segera menyelesaikan dualisme kompetisi yang telah berimbas negatif ke prestasi Timnas.

"Kekalahan ini juga menjadi tanggung jawab pengurus. Kekalahan ini akan tertulis di media-media Internasional. Kita seharusnya berkaca dan berinstropeksi. Apakah sikap yang diambil itu menguntungkan atau tidak. Imbas dualisme ini telah menjalar ke segala aspek dan berdampak ke Timnas," cetus Fachry.

VIVAbola sendiri telah berusaha menghubungi Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin untuk meminta tanggapan, baik lewat telepon dan pesan singkat. Namun, hingga artikel ini diturunkan, Djohar tidak bisa dihubungi



      Originally Posted by omgaring View Post
itu mah sebenernya ga layak disebut TIMNAS INDONESIA gan, mestinya disebut IPL SELECTION...

jadi skor akhir BAHRAIN 10 vs IPL SELECTION 0



      Originally Posted by ka5kus3r View Post
menyedihkan gan pas baca berita indonesia kalah 10 -0..

....

seharusnya PSSI mau berbenah, menghilangkan dualisme kompetisi..apapun tujuan induk organisasi ini kan intinya untuk memajukan sepakbola Indonesia...bukan memperburuk prestasi Sepakbola Indonesia ..



hilangkanlah ego2 pribadi dan golongan. mari bersatu menciptakan sepakbola indonesia yg lebih baik



      Originally Posted by domer1 View Post
smoga dngan kejadian ini smua pihak bisa mengambil hikmahnya and tau apa yang harus dilakuin ke depannya.....PSSI skrng udah ngebuang 1 generasi (titus bonai cs)...please jangan ada lagi...kalo kalah spt ini lagi (0-10)...lbih baek kita tarkam dulu deh....sedih dalem hati..but Hidup Indonesiaku..maju terus garuda muda...lawan tarkam aja dulu yah...



      Originally Posted by Titoe View Post

DARI AWAL JADI KETUM PSSI yang UDAH KETAHUAN BONEKA NYA ARIFIN PANIGORO JUGA ANE DAH BILANG, DIA ADALAH BUKAN ORANG YG PANTAS UNTUK PSSI 1....


MELANGGAR STATUTA, MERUBAH SISTEM KOMPETISI LIGA, MEMECAT 3 ANGGOTA EXCO YG VOKAL DAN MEMBUANG ISL DARI RANAH SEPAK BOLA INDONESIA ADALAH DOSA BESAR PSSI ERA-ARIFIN DAN KAWAN2NYA


      Originally Posted by wkawka View Post
setuju.
KEKALAHAN ini MILIK DJOHAR ARIFIN dan sekutunya.
BUKAN KEKALAHAN INDONESIA

taro pejwan ya TS kalo boleh, biar Indonesia tau kalo ini bukan kekalahan timnas, tapi kekalahan Djohar dkk.