Sabtu, 29 Desember 2012

#kampanye : Menyusui itu karunia gan, jangan ditinggalkan >> asi.web.id



Menyusui=karunia unt ibu. Krn Proses mnyusui btuh sabar&telaten.Mmbentuk karakter positif bagi Ibu unt lbh disiplin,pngasih&pnyabar. Setuju?

Semua pengalaman menyusui itu membangkitkan rasa senang,nyaman,haru,bahagia, bangga yg tdk dpt terlukiskan dengan kata-kata. Betul? #eaaa

Pengalaman ini bukan yang menyenangkan saja tapi juga hal-hal unik,menyakitkan, rasa frustasi, konflik batin juga ada.

Pengalaman ini bukan yang menyenangkan saja tapi juga hal-hal unik,menyakitkan, rasa frustasi, konflik batin juga ada.

Yg sering adl konflik batin saat tdk yakin apa ASI saja sdh cukup atau blm. Hampir frustasi saat bayi menangis trs yg blm tentu krn lapar

Pd kondisi inilah, dukungan seorang suami,ortu,saudara, &lingkungan, serta bekal pengetahuan yg cukup bs berperan unt menghapus frustasi itu

Atas dasar tsb, dg bekal riset yg panjang&mumpuni, serta bantuan modal&manajemen kamipun mempersembahkan asi booster tea unt ibu2 indonesia

Ada juga yang merasa paling berkesan adl saat puting perih tp tetap menyusui shg disitulah perjuangan ibu menahan sakit unt si kecil.

Bahkan ada ibu yg kangen menyusui anaknya meskipun sdh menyusui 2th. ada jg yg kangen dibangunkn tengah mlm oleh tangisan syahdu sikecil :)

Hamil,melahirkan, menyusui, merawat bayi sampai dewasa, itu Rahmat. Jgn lewatkan satu momenpun. Yakinlah ASI yg terbaik & pasti cukup! :)

informasi tentang hamil menyusui sekarang udah bisa dari mana lho, misal : dari twitter @sumberinfo_ASI , @aimi_ASI, @ayahASI_ID dll
dari situs www.asi.web.id , www.ayahbunda.co.id , atau situs umum spt detik.com jg ada.

ayo melek ASI gan! sosialisASI ini penting bgt demi Indonesia yg lebih cerdas!

Selasa, 25 Desember 2012

Menyusui Tandem

Menyusui #tandem adalah ketika seorang ibu yang sedang masa menyusui hamil, sehingga harus menyusui balita dan bayinya pada saat yang sama.

Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa menyusui saat hamil membahayakan janin selama kehamilannya normal. Menyusui selama kehamilan tidak akan mengurangi nutrisi penting untuk janin yang dikandung. Dan tidak akan “menguras” gizi ibu. Faktor yg jd prtimbangan mnyusui #tandem: Riwayat medis,Tingkat kenyamanan fisik&emosional,Usia anak yg disusui&kebutuhannya untuk menyusu. Ketika ibu memilih untuk menyusui tandem, banyak ibu menemukan bahwa terbentuk kedekatan yang unik antara anak yang lebih besar dan bayinya

Jadi, selama riwayat medis baik, fisik baik, & yakin dlm diri. Menyusui tandem slma hamil adl pilihan terbaik.

Menyusui bayi aplg tandem (2bayi), prlu asupan mkanan&gizi ckup, serta suplemen ASI Booster Tea spy ASI deres!

www.asi.web.id | www.fastmobilepoint.com

Rabu, 05 Desember 2012

MEMBAWA ASIP DI PESAWAT


Ketika ibu yang sedang menyusui ingin melakukan perjalanan dengan pesawat terbang sambil membawa ASI perah, ada aturannya. Tidak perlu khawatir, ASI perah masih tetap bisa dibawa, asal mengikuti aturan.

Aturan di pesawat

1. Aturan penerbangan internasional membatasi penumpang membawa cairan, yaitu  tidak boleh lebih dari 3 ounces atau sekitar 90 mililiter. Namun untuk ASI, ternyata aturannya berbeda. Amerika Serikat melalui TSA (Transportation Security Administration atau Badan Keamanan Transportasi), menerbitkan aturan:
Ibu yang terbang dengan atau tanpa anak dibolehkan membawa ASI/susu formula/jus dalam jumlah lebih dari 90 mililiter, asal dilaporkan dulu (declared) di pabean.
ASI maupun susu formula boleh dibawa di tas jinjing atau tas lainnya. Prosedur pemeriksaannya sama dengan barang-barang lain, yaitu melalui pemeriksaan sinar X, pabean dan boleh dibawa ke kabin. Anda dan anak tidak akan diminta untuk mengetes ASI atau susu formula.
Pisahkan ASI atau susu formula tersebut dari cairan lain (gel, aerosol, cairan). Simpan di dalam tas berukuran 1 liter yang memiliki ritsleting di bagian atas.

2. Aturan maskapai Nasional. Berdasarkan peraturan Dirjen Perhubungan Udara nomor SKEP/43/III/2007 tentang Penanganan Cairan, Aerosol dan Gel (Liquid, Aerosol, Gel) yang dibawa penumpang ke dalam kabin pesawat udara pada penerbangan internasional, tersebut dalam pasal 3 ayat 2 bahwa obat-obatan medis, makanan/minuman/susu bayi dan makanan/minuman penumpang untuk program diet khusus tidak usah diperlakukan seperti membawa cairan, aerosol dan gel (harus dimasukkan ke satu kantong plastik transparan ukuran 30 cm x 40 cm dengan kapasitas cairan maksimum 1.000 ml atau 1 satu liter dan disegel). Jadi, silakan membawa ASI perah ke dalam kabin tanpa dibatasi.

3. Laporkan juga ice pack di dalam cooler box ke petugas pabean saat check-in. Bila ice-pack tidak boleh dibawa, karena kemungkinan akan mencair setelah lewat batas waktu, sampaikan ke petugas pabean atau kru pesawat Anda akan menitipkan ASI perah di lemari pendingin pesawat.

Teknik memerah dan membawa ASI perah di dalam pesawat. Selain aturan-aturan membawa ASI dalam pesawat terbang, Anda perlu perhatikan juga teknik memerah ASI di dalam pesawat atau menyimpan ASI perah dalam kabin.

Simpan ASI perah di cooler box dengan beberapa ice pack untuk menjaga ketahanan ASI selama kurang lebih 6-7 jam atau tergantung lama perjalanan. Bila tidak membawa ice pack, titipkan ASI perah di lemari pendingin di kabin.

Jika harus memerah ASI di pesawat, sampaikan ke awak kabin, mungkin mereka bisa membantu Anda dengan memberi deretan kursi yang kosong. Gunakan apron menyusui, permisi kepada penumpang di sebelah dan lakukan prosedur memerah ASI seperti biasa (cuci tangan, dan lain-lain).
Nah, sudah siap terbang Bunda?

Salam ASI,
www.asi.web.id | www.fastmobilepoint.com
follow us on twitter @sumberinfo_ASI

Senin, 03 Desember 2012

Kode WHO – Penjamin Pemberian ASI Eksklusif | asi.web.id




“Apa kabar baby adis? Sekarang minum nya apa? ASI saja? Bagus bu, ASI memang yang terbaik. Tapi nih, kalau merasa ASI-nya kurang kita punya produk XYZ lhoo, dilengkapi AA dan DHA komposisinya menyerupai ASI lho, boleh dicoba ibu…”

3 bulan kemudian

“Gimana adek adis keadaannya? Wah ibu udah mau masuk kerja? Boleh dicoba lho produk kami XYZ. Jadi selama ibu bekerja, adek adis kasih XYZ saja, sama kok kandungannya dengan ASI”

3 bulan selanjutnya….

“Waah selamat bu, adek adis sudah mau makan yaa, dicoba bubur susu KLM nya bu, daripada repot-repot bikin, ini udah lengkap banget kandungan gizinya. ASInya masih juga? Wah udah waktunya dicampur, kandungan gizi ASI udah berkurang, coba XYZ plus ya bunda.”

Kejadian ini terjadi 5 tahun lalu. Tanpa henti, dengan agresifnya, marketing perusahaan susu formula terus menghubungi saya melalui telepon. Sayangnya, saat itu saya belum tergabung dalam AIMI. Saya belum tahu bahwa hal tersebut merupakan salah satu bentuk pelanggaran pemasaran pengganti ASI. Jadi saya biarkan saja.

Untungnya lingkungan mendukung saya memberikan ASI hingga 2 tahun, sehingga tidak terpikir sama sekali untuk beralih ke susu formula. Di luar sana, banyak yang tidak seberuntung saya dengan didukung lingkungan sekitar, sehingga tak jarang para ibu menjadi goyah dan termakan hasutan beralih ke susu formula.

Apa yang salah?

Promosi secara langsung dengan menghubungi ibu yang baru mempunyai anak sebenarnya dilarang menurut ‘The International Code of Marketing of Breastmilk Subsitutes‘ yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 1981, selanjutnya kita sebut Kode WHO.

Pasal 5.5 Kode WHO secara jelas menyebutkan:
“5.5 Personil pemasaran, dalam kapasitas bisnisnya, hendaknya tidak melakukan kontak langsung atau tidak langsung dalam bentuk apapun juga dengan perempuan hamil atau dengan ibu dari bayi atau anak (balita).”

Cakupan Kode WHO ini adalah setiap pemasaran dan praktek terkait lainnya terhadap produk berikut:

Pengganti ASI, termasuk susu formula.
Produk susu lainnya, makanan dan minuman termasuk MPASI dalam botol, yang dipasarkan atau direpresentasikan cocok untuk digunakan sebagai pengganti ASI baik seluruhnya maupun sebagian, dengan atau tanpa modifikasi.
Botol dan dot.

Dikarenakan WHO merekomendasikan menyusui hingga 2 tahun, maka cakupan tersebut juga berlaku untuk produk pengganti ASI hingga anak berumur 2 tahun.

Selain berpromosi langsung, berikut beberapa larangan pemasaran Pengganti ASI oleh Kode WHO dalam memasarkan produk pengganti ASI:

  • Dilarang mengiklankan susu formula dan produk lain kepada masyarakat.
  • Dilarang memberikan sampel gratis kepada ibu-ibu.
  • Dilarang promosi susu formula di sarana pelayanan kesehatan.
  • Staf perusahaan tidak diperkenankan memberikan nasihat tentang susu formula kepada ibu-ibu.
  • Dilarang memberikan hadiah atau sampel kepada petugas kesehatan.
  • Dilarang membuat gambar bayi atau gambar lainnya yang mengidealkan susu formula pada label produk.
  • Informasi kepada petugas kesehatan harus bersifat faktual dan ilmiah.
  • Informasi tentang susu formula, termasuk pada label, harus menjelaskan keuntungan menyusui dan biaya serta bahaya pemberian susu buatan.
  • Produk yang tidak cocok seperti susu kental manis, dilarang dipromosikan untuk bayi.
  • Penjelasan tentang penggunaan susu formula hanya dibolehkan untuk beberapa ibu yang betul-betul memerlukannya.

Lalu, mengapa perusahaan susu formula tetap melakukan pelanggaran terhadap Kode WHO itu? Apakah mereka tidak mengetahuinya? Jawabannya TIDAK. Mereka mengetahui secara jelas tentang Kode WHO ini, bahkan pada saat penyusunan kode, mereka dilibatkan. Itu merupakan salah satu strategi dalam memasarkan produk mereka.

Lihat laporan berikut ini:
“as breastfeeding rates are set to increase in the short term, iternational companies should focus on launching new products targeting breastfeeding mothers” Euromonitor International, 2008.

“…manufactureres are expected to continue adopting similar strategies to those used in 2008/2009…incorporating their existing products with more ingredients, introducing value-for-money products and promotional efforts to boost volume sales such as offering gifts with certain purchases.” Baby food in Indonesia, Euromonitor International, November 2009.

Jelas disana dijelaskan, bahwa mereka dengan sengaja melakukan aktivitas-aktivitas promosi untuk meningkatkan penjualan produk pengganti ASI, dengan target yang sangat jelas, yaitu Ibu menyusui. Dan negara berkembang seperti Indonesia menjadi sasaran yang ‘empuk’, karena masih banyak orang tua dan ibu yang belum terinformasi tentang manfaat menyusui dan bahaya susu formula.