Jumat, 23 Agustus 2013

investasi & produksi susu bubuk dg spray dryer


Susu dan madu merupakan komoditas yang bisa dibilang seperti emas, nilai ekonomisnya sangat tinggi. Dua item ini jika diproses menjadi bubuk maka nilainya akan lebih berlipat lagi. Potensinya amat sangat besar. sayangnya, investasi mesinnya juga lumayan, jika ada yang ingin berinvestasi di bisnis ini, saya siap untuk mengerahkan produksi & pemasaran skala nasional, dengan PP & BEP yang tentunya juga bagus :)

Prinsip pembuatan susu bubuk adalah mengurangi kadar air yang terdapat dalam susu sampai batas tertentu dengan tujuan agar daya simpan susu ini menjadi lebih lama. Pengurangan kadar air berarti pula penurunan aktivitas air dalam susu. Dengan menurunnya nilai Aw (water activity) maka pertumbuhan organisme dapat terhambat.

Standarisasi
Standarisasi adalah salah satu tahap pengolahan susu segar yang bertujuan untuk mendapatkan bahan baku yang baik dan siap diproses. Hal ini dilakukan agar komposisi susu seperti lemak, protein, dan gula sesuai formulasi dan menjaga keseragaman produk.

Pasteurisasi dan Separasi
Pasterurisasi adalah proses untuk membunuh bakteri patogen dalam susu dengan cara pemanasan, sedangkan separasi dalam hal ini bertujuan untuk memisahkan cream dan skim susu serta kotoran yang terkandung dalam susu.

Pengentalan (Evaporasi)
Proses evaporasi bertujuan untuk meningkatkan persentase total solid susu dengan cara menguapkan sebagian kandungan air dalam susu. Penguapan ini dimungkinkan dengan menggunakan steam suhu tinggi.

Pencampuran
Pada proses pencampuran semua bahan baku dan bahan tambahan dicampur menjadi menjadi satu dalam sebuah tanki pencampuran. Susu yang telah dievaporasi dialirkan dari tanki penyimpanan susu evaporasi ke tanki pencampur. Sebelum di alirkan, susu evaporasi dipanaskan pada alat plate heat exchager hingga mencapai suhu 55-60°C.

Homogenisasi
Proses dari homogenisasi menurunkan atau memperkecil ukuran globula lemak menjadi sekitar 2 mikron atau kurang dan meningkatkan area permukaan globula lemak sekitar 6 kali sehingga sistem emulsi lemak susu menjadi stabil.

Pengeringan
Proses pengeringan merupakan inti dari keseluruhan proses pembuatan susu bubuk, dimana pada proses ini terjadi perubahan bentuk susu dari bentuk cair ke bubuk. Konsentrat susu yang di umpankan ke spray dryer di semprotkan melalui lubang nozzle. Proses terjadinya susu bubuk melalui pengeringan secara semprot ini dilakukan dengan tahap. Tahap pertama adalah penyebaran konsentrat dalam bentuk tetesan-tetesan halus dengan menggunakan nozzle. Tahap kedua adalah dengan menguapkan kandungan air dari partikel yang terbentuk dengan mengalirkan udara panas yang kering.

Pengemasan (filling)
Setelah proses pengeringan, selanjutnya susu bubuk slap untuk dikemas (filling).

Pengujian kualitas susu
Pengujian kualitas susu segar sangat penting dilakukan, hal ini untuk menjaga agar produk susu bubuk yang dihasilkan tetap terjaga baik dan berada pada spesifikasi yang ditetapkan oleh perusahaan. Beberapa uji yang dapat dilakukan untuk mengetahui kualitas susu
1. Uji organoleptik
2. Uji alkohol
3. Berat jenis
4. Uji pH
5. Uji Resazurin
6. Kadar lemak
7. Uji keasaman
8. Uji temperatur dan titik beku susu

Selasa, 06 Agustus 2013

Memaknai idul fitri & sunnahnya

Setelah melaksanakan ibadah shaum (puasa) selama 1 bulan, Umat Islam di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Fitri. Beberapa hal/kebiasaan unik berkaitan dengan idul fitri yang masih banyak orang belum tau apa itu sebenarnya.

Pertama adalah pengertian dari Idul Fitri itu sendiri. Selama ini Idul fitri diartikan sebagai “kembali ke pada fitrah” ataupun “kembali suci”. Padahal kalau dilihat artinya dalam bahasa Arab bisa menimbulkan perbedaan pengertian. Kata ‘Id berasal dari kata “Ada-Yaudu” yang maknanya kembali, sedangkan fitri berasal dari kata iftor yang maknanya berbuka. Jadi ‘Idul fitri sebenarnya bermakna “kembali berbuka setelah melaksanakan shaum selama 1 bulan”, bukanlah kembali suci yang selama ini dipahami oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Yang kedua adalah istilah zakat yang wajib dibayarkan sebelum sholat ‘id. Selama ini masyarakat mengenalnya dengan sebutan “zakat fitrah”, padahal sebutan yang benar adalah “zakat fitri” sesuai dengan hari raya Idul fitri. Zakat fitri ini wajib dibayarkan sebagai penyempurna ibadah shaum, waktunya hingga sebelum khotib sholat ‘id naik ke atas mimbar. Bila lewat dari waktu tersebut, maka hanya dianggap sebagai infaq biasa.

Yang ketiga adalah pelaksanaan sholat ‘id. Sholat ‘id hukumnya sunnah muakad, tempat pelaksanaannya di lapangan ataupun tempat terbuka bukannya di masjid. Selama hidupnya Rasulullah melaksanakan sholat ‘id di tempat lapang dan tidak pernah didalam masjid sekalipun di dalam masjidil Haram ataupun masjid Nabawi meskipun diketahui bahwasanya pahala sholat di masjid tersebut lebih besar dibandingkan sholat di masjid lain.

Yang keempat adalah khutbah sholat ‘id. Khutbah hanya dilakukan satu kali, berbeda dengan khutbah sholat jum’at dimana khotib duduk di antara 2 khutbah. Hukum mendengarkan khutbah ‘id pun hanya sunah, berbeda dengan khutbah sholat jum’at yang wajib dan merupakan bagian dari ibadah sholat jum’at itu sendiri.

Yang kelima adalah tata cara sholat ‘id. Sholat ‘id dilaksanakan 2 raka’at dimana pada rakaat pertama ada 7 takbir setelah takbiratul ihram dan 5 takbir di rakaat kedua setelah takbir bangun dari sujud. Rasulullah tidak pernah memberikan contoh bacaan khusus diantara takbir-takbir tersebut. Hanya saja ada seorang sahabat yang menambahkan dengan kalimat :”Subhanallah Walhamdulillah Wa Laa ilaha ilallah Wallahu Akbar”, hal ini tidak dilarang oleh Rasulullah.

Yang keenam adalah masalah takbir menyambut hari raya Idul Fitri. Takbir hanya dilakukan selama perjalanan sebelum sholat ‘id hingga sesaat sebelum khotib naik mimbar. Dan hanya dilakukan secara perseorangan, bukannya dilakukan secara berjama’ah. Jadi acara malam takbiran yang terjadi di masyarakat saat ini sesungguhnya tidak pernah dilakukan selama zaman Rasulullah.

Yang ketujuh adalah ucapan dalam hari raya Idul fitri. Dalam masyarakat Indonesia dikenal ucapan “Minal Aidzin Wal Faidzin”. Ucapan ini tidak ada landasan yang kuat dan entah sejak kapan dikenal di masyarakat. Ucapan yang diajarkan Rasulullah dalam hari raya Idul Fitri adalah “Taqoballahu Minna Wa Minkum ” yang artinya Semoga Allah menerima ibadah kita semua.

Kalo ada yang kurang monggo ditambahkan Semoga hal ini bermanfaat dan memacu kita (terutama saya) untuk lebih kritis mencari dalil ataupun landasan dalam melaksanakan ibadah. Wallahu ‘alam bi showab.