Kami tawarkan kepada Anda untuk menjadi DISTRIBUTOR Biang pupuk Organik BiosRI-43! kami siapkan insentif hadiah MOBIL KIAT ESEMKA untuk Anda!!
Harga distributor: 90rb, min order: 12 botol saja (untuk satu hektare)
BERMINAT?? HUBUNGI CS kami: 0857 4924 7620 (SMS DAHULU). Kami tunggu kabar baiknya segera.
Konon, dewi sri merupakan dewi
kesuburan tanah dan simbol kemakmuran yang menjaga sawah padi para petani. Dalam mitologi
Jawa, sesungguhnya padi adalah dewi sri dan sebaliknya. Mitosnya, orang
Jawa tak bisa lepas dari dewi sri, seperti mereka tak bisa lepas dari nasi.
Seiring dengan pandangan itu, dunia pertanian di Jawa tempo dulu juga mengalami
masa kejayaan. Contohnya, penguasa majapahit berani menetapkan kawasan bebas
pajak berupa sawah dan kebun seperti ditunjukkan prasasti Kamalagi (821 M).
Sejarawan senior Prof. Dr. Sartono
Kartodirdjo pernah menulis bagaimana para petani Jawa sebelum kedatangan
penjajah, membuat lumbung desa yang bisa mencukupi kebutuhan makan seluruh
penduduk sampai panen berikutnya. Dengan demikian, kesejahteraan bersama lebih
diutamakan (Ahn Jr, 2008:17).
Indonesia merupakan negara agraris,
namun ironinya saat ini lahan pertanian di Indonesia hanya berkisar dua puluh juta
hektar atau seluas satu kawasan paternakan di satu provinsi di Brazil!
(Apriyanto, 2008:15). Dengan jumlah petani 25 juta jiwa, seorang petani di
Indonesia rata-rata hanya memiliki lahan 0,3 hektar. Kita harus waspada
terhadap agresifnya Vietnam dalam memperbaiki industri agrobisnis, diantaranya
yaitu meningkatkan ekspor sayuran dan buah-buahan dengan target 25% pada 2010,
serta perbaikan berbagai fasilitas agrobisnis. Selain itu Vietnam juga telah
menyiapkan lahan 550 ribu hektar untuk bertanam sayuran serta 760 ribu hektar
untuk bertanam anggrek dan buah (Jawa Pos, 22 Maret 2008 hal 15). Belum lagi
Tiongkok dan India yang menjadi penjual sayur terbesar di dunia. Bagaimana
dengan Indonesia?
Lalu bagaimana cara menggali potensi
”padi” yang telah terperosok terlalu dalam?.Pencapaian societal welfare harus dilakukan dan diberdayakan secara merata di
segala sektor. Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia yang berjumlah
ratusan juta, tersebar dimana-mana-mana-mana,he dan memiliki bermacam-macam profesi
alangkah baiknya jika kita memfokuskan kepada salah satu sektor lebih dulu
serta harus ada pertimbangan sektor mana yang harus diutamakan, kemudian
dikembangkan ke sektor-sektor lain pada tahap-tahap berikutnya. Tentu pilihan
utamanya adalah yang paling berpotensi dari segala aspek. Menengok dari
sejarah, pesaing, dan budaya, serta latar belakang negara agraris, adalah hal
yang tepat jika menganalisis pertanian sebagai sektor paling tangguh untuk
ditumbuhkembangkan (betul tidaaak?). Dengan lahan di Indonesia yang terbatas,
harus difokuskan ke satu titik untuk mengembangkan komoditas tertentu, sehingga
fokus itu tidak akan mengakibatkan defisit pada semua komoditas pertanian
seperti saat ini. Dari pertimbangan tersebut, mungkin dapat disimpulkan bahwa ”padi”
merupakan sektor yang berpotensi paling besar. (Se-7!!!)
Titik fokus permasalahan terpuruknya
sektor tani padi terdapat pada ”sang petani”. Nasib petani Indonesia yang tanpa
ada proteksi dari pemerintah terhadap gejolak global melengkapi awamnya petani
terhadap sistem menanam padi yang lebih efektif dan efisien. Perbaikan SDM petani ini akan menjadi kunci melonjaknya
bidang ini. Di era milenium ini telah muncul sistem-sistem baru yang mengacu
pada kualitas nutrisi dan akselerasi tanam padi yang notabene jelas sangat jauh
lebih baik daripada cara konvensional yang dipakai mayoritas petani Indonesia
saat ini dengan mencekoki tanaman oleh ”pupuk kimia” (jelek nih!jangan ditiru
lagi ya anak-anak..?!^^). Teknik seperti ini telah banyak diberdayakan seperti oleh
kelompok-kelompok tani di Jatim dengan sasaran petani belum sejahtera melalui
seminar-seminar, terjun langsung ke lapangan dengan penyuluhan, ataupun melalui
wisata edukasi pertanian. Program penyejahteraan petani ini juga sering
dilakukan oleh para produsen-produsen pupuk seperti produsen BPO Biosri-43 yang
bermarkas di Malang melalui diklat-diklat dan seminar, talkshow di radio,
sampai pembagian pupuk secara gratis kepada petani belum sejahtera. Bayangkan
saja, jika cara ini diberdayakan pada dua puluh juta hektar lahan di Indonesia,
lewat perhitungan kasar saja diperkirakan akan terjadi lonjakan hasil panen
sejumlah 80 triliun ton! ->note:jangan puyeng dulu toh!! (dari (4juta/Ha x
20juta = 80 triliun ton) menjadi (8juta ton/Ha x 20juta = 160 triliun ton). Hal
ini merupakan pengharapan yang cukup nyata untuk memberdayakan dan
mensejahterakan petani Indonesia. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar