Minggu, 19 Februari 2012

MENGHIDUPKAN KEMBALI ROH DEWI SRI



Kami tawarkan kepada Anda untuk menjadi DISTRIBUTOR Biang pupuk Organik BiosRI-43! kami siapkan insentif hadiah MOBIL KIAT ESEMKA untuk Anda!!
Harga distributor: 90rb, min order: 12 botol saja (untuk satu hektare)

BERMINAT?? HUBUNGI CS kami: 0857 4924 7620 (SMS DAHULU). Kami tunggu kabar baiknya segera.

Konon, dewi sri merupakan dewi kesuburan tanah dan simbol kemakmuran yang menjaga sawah padi para petani. Dalam mitologi Jawa, sesungguhnya padi adalah dewi sri dan sebaliknya. Mitosnya, orang Jawa tak bisa lepas dari dewi sri, seperti mereka tak bisa lepas dari nasi. Seiring dengan pandangan itu, dunia pertanian di Jawa tempo dulu juga mengalami masa kejayaan. Contohnya, penguasa majapahit berani menetapkan kawasan bebas pajak berupa sawah dan kebun seperti ditunjukkan prasasti Kamalagi (821 M).
Sejarawan senior Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo pernah menulis bagaimana para petani Jawa sebelum kedatangan penjajah, membuat lumbung desa yang bisa mencukupi kebutuhan makan seluruh penduduk sampai panen berikutnya. Dengan demikian, kesejahteraan bersama lebih diutamakan (Ahn Jr, 2008:17).
Indonesia merupakan negara agraris, namun ironinya saat ini lahan pertanian di Indonesia hanya berkisar dua puluh juta hektar atau seluas satu kawasan paternakan di satu provinsi di Brazil! (Apriyanto, 2008:15). Dengan jumlah petani 25 juta jiwa, seorang petani di Indonesia rata-rata hanya memiliki lahan 0,3 hektar. Kita harus waspada terhadap agresifnya Vietnam dalam memperbaiki industri agrobisnis, diantaranya yaitu meningkatkan ekspor sayuran dan buah-buahan dengan target 25% pada 2010, serta perbaikan berbagai fasilitas agrobisnis. Selain itu Vietnam juga telah menyiapkan lahan 550 ribu hektar untuk bertanam sayuran serta 760 ribu hektar untuk bertanam anggrek dan buah (Jawa Pos, 22 Maret 2008 hal 15). Belum lagi Tiongkok dan India yang menjadi penjual sayur terbesar di dunia. Bagaimana dengan Indonesia?
Lalu bagaimana cara menggali potensi ”padi” yang telah terperosok terlalu dalam?.Pencapaian societal welfare harus dilakukan dan diberdayakan secara merata di segala sektor. Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia yang berjumlah ratusan juta, tersebar dimana-mana-mana-mana,he dan memiliki bermacam-macam profesi alangkah baiknya jika kita memfokuskan kepada salah satu sektor lebih dulu serta harus ada pertimbangan sektor mana yang harus diutamakan, kemudian dikembangkan ke sektor-sektor lain pada tahap-tahap berikutnya. Tentu pilihan utamanya adalah yang paling berpotensi dari segala aspek. Menengok dari sejarah, pesaing, dan budaya, serta latar belakang negara agraris, adalah hal yang tepat jika menganalisis pertanian sebagai sektor paling tangguh untuk ditumbuhkembangkan (betul tidaaak?). Dengan lahan di Indonesia yang terbatas, harus difokuskan ke satu titik untuk mengembangkan komoditas tertentu, sehingga fokus itu tidak akan mengakibatkan defisit pada semua komoditas pertanian seperti saat ini. Dari pertimbangan tersebut, mungkin dapat disimpulkan bahwa ”padi” merupakan sektor yang berpotensi paling besar. (Se-7!!!)
Titik fokus permasalahan terpuruknya sektor tani padi terdapat pada ”sang petani”. Nasib petani Indonesia yang tanpa ada proteksi dari pemerintah terhadap gejolak global melengkapi awamnya petani terhadap sistem menanam padi yang lebih efektif dan efisien. Perbaikan  SDM petani ini akan menjadi kunci melonjaknya bidang ini. Di era milenium ini telah muncul sistem-sistem baru yang mengacu pada kualitas nutrisi dan akselerasi tanam padi yang notabene jelas sangat jauh lebih baik daripada cara konvensional yang dipakai mayoritas petani Indonesia saat ini dengan mencekoki tanaman oleh ”pupuk kimia” (jelek nih!jangan ditiru lagi ya anak-anak..?!^^). Teknik seperti ini telah banyak diberdayakan seperti oleh kelompok-kelompok tani di Jatim dengan sasaran petani belum sejahtera melalui seminar-seminar, terjun langsung ke lapangan dengan penyuluhan, ataupun melalui wisata edukasi pertanian. Program penyejahteraan petani ini juga sering dilakukan oleh para produsen-produsen pupuk seperti produsen BPO Biosri-43 yang bermarkas di Malang melalui diklat-diklat dan seminar, talkshow di radio, sampai pembagian pupuk secara gratis kepada petani belum sejahtera. Bayangkan saja, jika cara ini diberdayakan pada dua puluh juta hektar lahan di Indonesia, lewat perhitungan kasar saja diperkirakan akan terjadi lonjakan hasil panen sejumlah 80 triliun ton! ->note:jangan puyeng dulu toh!! (dari (4juta/Ha x 20juta = 80 triliun ton) menjadi (8juta ton/Ha x 20juta = 160 triliun ton). Hal ini merupakan pengharapan yang cukup nyata untuk memberdayakan dan mensejahterakan petani Indonesia. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar