Sabtu, 18 Februari 2012

pengantar - swasembada beras, mungkinkah? MUNGKIN!


Dunia adalah sebuah tempat berlabuh manusia sementara. Dimana di dunia inilah manusia diberi kesempatan untuk berkarya, menimba ilmuNya, menjadi manusia yang ulil albab. Begitu banyak pengetahuan dan rahasia Allah SWT. Jangankan di dunia lain, di dunia kehidupan ini manusiapun tidak akan sanggup melahap semua ilmuNya meskipun hidup 1000 tahun!. Ilmu-ilmu Allah SWT dibagi menjadi banyak sektor, dan untuk bisa mendalaminya kita hanya bisa memilih beberapa bahkan hanya satu.
Salah satu ilmu yang telah ada berabad-abad adalah ilmu pertanian & bercocok tanam. Berbagai sejarah telah ditorehkan oleh pertanian. Pertanian juga merupakan batas peradaban baru manusia dari PRAsejarah menjadi manusia sejarah.

Masyarakat Indonesia memiliki suatu pola makan yang selalu dikonotasikan dengan nasi. Konsumsi terhadap beras setiap tahun akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk namun tidak sebanding dengan hasil panen. Jumlah penduduk Indonesia tahun 2002 mencapai 210 juta jiwa dengan laju pertambahan 1,60% per tahun. Pertumbuhan produksi beras hanya mencapai rata-rata 2,50% per tahun. Karena itu perlu dicari sebuah alternatif pengganti beras untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat. Menurut Samad (2007), ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi beras telah terjadi pada tahun 1999, dimana untuk menutupi kekurangan beras dilakukan impor beras sejumlah 4,75 juta ton dan devisa yang dikeluarkan mencapai tidak kurang 10,62 triliun rupiah.
Kini, pertanian dianggap sebagai salah satu mata pencaharian yang kurang menjanjikan. Padahal, image ini terbentuk hanya karena orang yang terlihat bekerja lewat pertanian adalah orang-orang terbelakang, kurang mampu, kurang pendidikan, dan kurang-kurang faktor lainnya^^. Padahal, pertanian merupakan sumber duit bagi kita jika diolah dan dimanage dengan cerdas. Bob Sadino merupakan pengusaha super sukses dengan pertanian. I Wayan Aryana, seorang dokter lulusan Udayana dari Parigi Moutong merasa tak cukup dengan profesi dokternya sehingga beralih menjadi petani durian yang sukses (Harian Kompas, jumat 25 April 2008.red).Bahkan kita bisa meraup 70 jutaan bahkan ratusan juta rupiah dengan pertanian yang termanajemen dengan baik!. Mungkinkah terjadi?. Kita realisasikan perhitungan logisnya:
Misalkan kita memiliki lahan tanah 5Ha saja. Jika digunakan untuk lahan tani padi dengan manage yang cerdas (menggunakan SRI-sistem rice intensifikasi= intensifikasi padi dengan kolaborasi pupuk kimia dan pupuk organik):
Manajemen tradisional: 4 ton/Ha
Manajemen yang baik (SRI): 8 ton/Ha=8000 Kg/Ha
Harga gabah kering panen standar bulog: Rp 2.800,-/Kg


Pendapatan kotor : (Rp2.800,-/Kg x 8.000 Kg)
Rp22.400.000,-/Ha

Lahan yang dimiliki 5Ha, maka daya ungkitnya: (Rp22.400.000,- x 5 Ha)

Rp112.000.000,-
Dikurangi Pengeluaran:


Bibit padi untuk 5Ha
Rp3.000.000,-

Air irigasi sampai panen
Rp700.000,-

Pupuk untuk 5 Ha sampai panen: (350.000x5=1.750.000,)+(150.000x5 = 750.000)
Rp2.500.000,-

Biaya buruh 10 orang @ Rp 750.000,- x 4 bulan
Rp30.000.000,-

Biaya lain-lain
Rp 5.000.000,-

TOTAL pengeluaran

Rp47.500.000,-
Pendapatan Bersih

Rp 70.800.000,-

Tidak ada yang tidak mungkin. Di dunia ini, manusia memiliki tugas untuk belajar. Belajar melakukan segala sesuatu secara efektif & efisien. Juga termasuk dalam mencari rezeki.
Mulai saat ini anda memiliki hak untuk memperoleh peningkatan pendapatan pribadi secara drastis dengan pertanian modern & manajemen yang efektif dan efisien. Saya tunggu kisah sukses anda meraup 70 juta dan menjadi milyarder dengan tani padi!. Semoga buku ini bermanfaat. Mohon maaf atas segala kekurangan. Terimakasih.
Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar